Artikel PENGURUS CABANG MATHLA'UL ANWAR KABUPATEN KUDUS

“Khithah Mathla’ul Anwar Harus Diimpelementasikan”.




  • images (6)
    KH. Ahmad Sadeli Karim dalam sebuah acara (doc/dak)
    Penggalan judul diatas merupakan suatu kata dalam mengingat kembali ucapan gagasan Kiai Haji Ahmad Sadeli Karim di mana saat itu barusatu tahun menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Mathla’ul Anwar periode 2010-2015, maka kami sajikan kembali wawancara yang dilakukan pada tanggal 11 April 2011 dan dimuat dalam salah satu blog. Tidak ada yang salah dengan pencapaian yang minim, melainkan kita harus melihat sejauh mana usaha yang telah dibangun oleh PBMA dalam menggapai suatu gagasan tersebut dan mengimplementasikannya.
    Wawancara ini dilakukan oleh Dhona El Furqon yang saat itu mengelola buletin Mathla’ul Anwar.  Mari kita simak percakapan enam tahun yang lalu ini.
    Bisa dijelaskan Mathla’ul Anwar Sebagai organisasi Yang Cukup Tua, Mengapa perkembangan Mathla’ul Anwar meredup ?
    Mathla’ul Anwar (MA) didirikan pada tahun 1916 di menes, yakni sebuah kampung. Dari awal MA bergerak dalam bidang pendidikan dan membina masyarakat desa. Maka jika kita mengamati di kota-kota, MA jarang ada. Pada masa pendiriannya, Belanda kebanyakan berada di kota maka para pendiri membangun harkat dan martabat mereka di kampung. Mengapa MA tidak perkembangannya tidak sepesat yang lain? katakanlah Muhammadiyah yang sama-sama bergerak di pendidikan, ia berdiri di Yogyakarta yang notabene kota dan Yogya pernah menjadi ibu kota republik. Sementara Nahdlatul Ulama, ia pernah menjadi partai jadi perkembangannya lebih menonjol sehingga kedua organisasi itu dari segi promosi dan kemasyhuran memiliki kelebihan. Hal ini berbeda dengan Mathla’ul Anwar yang berada di Desa. Walaupun MA tersebar di beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah dan Lampung sebarannya lebih berada di desa juga. Mungkin juga orang Mathla’ul Anwar terlalu Tawadhu dan rendah hati. Mungkin dulu para pendiri bekerja karena lillahi ta’ala dan tidak mau terekspos lebih jauh. Saya kira itu kenapa Mathla’ul Anwar tidak begitu muncul apalagi mungkin dalam beberapa dasawarsa MA tidak Independen. Artinya MA sebagai ormas tidak independen sehingga menyebabkan organisasi menjadi tenggelam.

    Baca juga :  PLT Gubernur Mengajak Pemuda-Pemudi Mathla'ul Anwar Sebagai Generasi Bangsa Untuk Bangkit
     
    Secara Ideologi apa yang membedakan Mathla’ul Anwar dengan organisasi masyarakat Islam yang lain?
    Saya kira tidak ada perbedaan baik Mathla’ul Anwar NU dan Muhammadiyah adalah adalah Ahlussunnah waljamaah. Perbedaannya pada persepsi pemikiran. Jika NU cenderung tradisional dan dia banyak mengelola pesantren dan dalam hal fiqh lebih dominan Mazhab Syafi’i. Kalau Muhammadiyah lebih non mazhab, artinya mereka lebih memilih mana hadits yang terbaik. Kalau Mathla’ul Anwar mengadopsi mazhab-mazhab yang ada dalam Ahlussunnah wal Jamaah. Jadi warganya dibebaskan dalam memilih mazhab. Meskipun KH Mas Abdurrahman cenderung menggunakan Mazhab Syafi’i dalam prakteknya dan tulisan dalam kitab-kitabnya. Namun ia membebaskan warga-warganya untuk memilih salah satu mazhab dalam Ahlussunnah wal Jamaah. Di sinilah uniknya kenapa orang Mathla’ul Anwar itu bisa dianggap menjadi Muhammadiyah dan bisa menjadi NU. Banyak orang Mathla’ul Anwar artinya dalam arti yang mengenyam pendidikan di Mathla’ul Anwar tapi kemudian ia menjadi tokoh Muhammadiyah dan dan Nahdlatul Ulama. Mengapa ini terjadi? karena MA mengakomodasi seluruh mazhab dengan perbedaanya.
    Bagaimana perjuangan Mathla’ul Anwar dalam Bidang Pendidikan?
    Sejak awal memang Mathla’ul Anwar bergerak dalam bidang pendidikan. Perlu diingat Mathla’ul Anwar adalah ormas yang pertama yang mendirikan sekolah dengan sistem klasikal modern di Indonesia yaitu madrasah. Malahan di tahun-tahun pendiriannya telah mendirikan pendidikan wajib sembilan tahun namanya MWB (madrasah Wajib Sembilan tahun). Jadi sistemnya mulai dari kelas A,B kemudian kelasa satu sampai tujuh. Keluaran kelas tujuh itu, ia sudah dipastikan menjadi guru. Jadi MA memang cenderung kepada pendidikan formal yang menyiapkan murid-muridnya untuk menyebarkan gagasan Mathla’ul Anwar ke berbagai daerah meski itu di pelosok-pelosok. Jadi dari awal memang Mathla’ul Anwar sudah menerapkan sistem pengajaran 75% agama dan 25% umum.

    Baca juga :  “Mathla’ul Anwar Provinsi Kalimantan Barat akan mengembangkan ekonomi berbasis kerakyatan
    Apakah sistem ini diadopsi dari timur tengah?
    Ya, mengingat pendidikan K.H Mas Abdurrahman dari Mekah. Masa itu madrasah juga mengajarkan telah mengajarkan pelajaran seperti aljabar dan Hisab dan Mathla’ul Anwar adalah lembaga yang pertama kali mendirikan sekolah klasikal pertama di Indonesia. Berbeda halnya dengan Nahdlatul Ulama yang concern di bidang pesantren, meskipun banyak juga ulama-ulama Mathla’ul Anwar memiliki pesantren. Hal ini lah yang menyebabkan ulama-ulama Mathla’ul Anwar masuk Nahdatul Ulama. Jadi pada waktu Nahdlatul Ulama lahir di Jombang, KH Mas Abdurrahman ia menghadiri pendiriannya dan Muktamar NU pada tahun 1936 dilaksanakan di Menes dan di komplek Mathla’ul Anwar.

    Sebagai ketua umum yang baru apa prioritas bapak ke depan dalam membangun organisasi Mathla’ul Anwar?
    Begini, sejak awal MA bergerak dala 3 bidang, pendidikan, dakwah dan sosial. Pendidikan sekarang memang sudah jalan. Jadi sekarang kita sedang melakukan konsolidasi di 26 wilayah dan 265 kabupaten kota. Kita juga punya perguruan hampir lima puluh dan kita memiliki lebih dari seribu madrasah. Kita ingin konsolidasi ini dengan yang sudah ada terlebih dahulu. Kita akan rawat dan lebih ditingkatkan lagi. Yang kedua adalah Bidang dakwah, hal ini yang dulu digeluti oleh ulama Mathla’ul Anwar dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam hingga ke pelosok. Hal ini dirintis kembali dengan membuka pendidikan untuk dai dan akan menugaskan mereka ke daerah-daerah sebagaimana ulama ulama terdahulu. Di samping itu di bidang sosial, dalam waktu dekat kita akan mengembangan bidang ini. Kita sudah melakukan kerja sama dengan beberapa kementrian untuk membangunmarkas sosial di kawasan Jelambar bekas kantor PBMA terdahulu. Jadi diharapkan ada tempat yang cukup besar untuk menjadi pusat dakwah dan sosial. Sebagaimana visi saya di Muktamar saya ingin Mathla’ul Anwar ke depan menjadi tiga besar di Indonesia, di samping NU dan Muhammadiyah. Alhamdulillah sekarang ini sudah ada kerja sama dalam forum-forum tertentu dengan mereka.

    Baca juga :  Kitab sharaf Tahfif Karya KH. Mas Abdurrahman
     
    Adakah keinginan untuk menggarap perkotaan untuk dijadikan basis Mathla’ul Anwar?
    Insya Allah ada keinginan ke arah sana. Sekarang Kantor Pengurus Besar sudah pindah dan agak lebih strategis. Kita sudah melakukan kerja sama dengan lembaga-lembaga lain agar Mathla’ul Anwar lebih dikenal di kota. Kita juga telah memiliki Universitas Mathla’ul Anwar yang berada di Pandeglang dan mungkin satu-satunya Universitas di Desa yang jumlah mahasiswa cukup banyak. Jadi untuk menggarap wilayah perkotaan bagaimanapun sumber daya yang ada ini harus dibangun terlebih dahulu. Jadi Insya Allah kita akan bangun Universitas-universitas Mathla’ul Anwar di Lampung, di Batam dan di Jawa Barat dan berbagai daerah lainnya. Itu menandakan kita sudah mau memasuki kota

    Bagaimana dengan kenetralan Mathla’ul Awar ke depan?
    Sebenarnya sejak muktamar di Boyolali, MA sudah dinyatakan sudah independen. Ketika itu para pengurus sudah terdiri dari banyak unsur dalam arti dari partai politik. Dan saya bertekad dalam kepemimpinan saat ini, organisasi harus netral dan independen. Artinya organisasi harus menjadi insklusif dan saya juga harus terbuka kepada para pengurus dari partai apapun jika ingin masuk, tapi Mathla’ul Anwar tidak boleh dibawa kepada partai politik dan menjadi kendaraan politik, karena Mathla’ul Anwar adalah orgnanisasi masyarakat bukan organisasi politik. Saya mengatakan dalam pemilukada di Banten bahwa Mathla’ul Anwar tidak akan memberikan dukungan politik kepada siapapun dan partai politik manapun. Jika Mathla’ul Anwar meberikan dukungan politik kepada salah satu pihak maka pengurus yang beragam ini pasti akan protes. Jadi Insya Allah saya akan menjaga kenetralan Mathla’ul Anwar dan saya tegaskan di depan Pelatihan Kader Generasi Muda Mathla’ul Anwar bahwa Mathla’ul Anwar adalah organisasi yang netral. (D)

    Mantan Warek UNMA Banten Jadi Dubes Azerbaijan


  • husnan Kiai

    Dr. KH. Husnan Bey Fananie dua bulan yang lalu dilantik menjadi duta besar Negara Azerbaijan. sosok yang mampu mengusai lima bahasa yakni bahasa Inggris, bahasa Belanda, Urdhu, Bahasa Arab, Bahasa Prancis, dan tentu Bahasa Indonesia. Husnan dilantik sebagai duta besar di Azerbaijan pada Januari 2016 lalu. Husnan merupakan Dubes RI kedua sejak kedutaan besar di Republik Azerbaijan itu dibuka pada tahun 2010. Dia berkomitmen untuk memperkenalkan budaya bangsa Indonesia di negara Eropa itu, selain itu juga mempererat hubungan diplomatik antar-kedua negara baik di bidang politik dan ekonomi.
    Sebelum menjadi Duta besar Azerbaijan, Dr. KH. Husnan Bey Fananie merupakan wakil Rektor III Universitas Mathla’ul Anwar Banten.   Ia mengaku tertantang ditunjuk menjadi calon dubes untuk Azerbaijan. Menurutnya, negara Eropa ini punya nilai lebih dan bisa memberi keuntungan bagi Indonesia jika hubungan bilateral terjalin baik.

    Baca juga :  OSO Terpilih Menjadi Ketua DPD-RI
    Husnan mengatakan, Azerbaijan terkenal sebagai negara dengan kekayaan sumber daya minyak nomor dua di dunia setelah Timur Tengah. Dia menyebut impor Indonesia dalam minyak dan gas mencapai USD 2,4 miliar pertahun. Sementara, ekspor Indonesia ke Azerbaijan baru USD 32 juta per tahun.
    “Kita mengalami defisit perdaganagn dengan Azerbaijan, makanya, Duta Besar di Azerbaijan pada saat ini sangat penting. Apalagi kita baru membuka kedutaan di Azerbaijan sejak 2010 lalu. Insya Allah, kalau jadi, saya ini nanti duta besar yang kedua,”tuturnya (def)

    PB Mathla'ul Anwar Ajukan Dua Ulama Sebagai Pahlawan Nasional

    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengurus Besar Mathla'ul Anwar merekomendasikan dua tokoh ulama Banten menjadi pahlawan nasional. Alasannya, selain sebagai guru bangsa, kedua tokoh tersebut juga ikut serta dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

    Demikian salah satu rekomendasi Muktamar MA ke-19 di Pandeglang, Ahad (9/8). Dua tokoh ulama yang direkomendasikan menjadi pahlawanan nasional adalah KH Syeh Nawawi Albantani dan KH Mas Abdurahman, pendiri Matgla'ul Anwar.

    Menurut Anggota Komisi Bidang Rekomendasi H. Aat Surya Syafaat didampingi anggota komisi Udin Saparudin, dua sosok ulama tersebut berperan besar dalam memajukan dunia pendidikan di Banten. Bahkan, perannya sudah menasional.

    "Usulan ini merupakan bentuk penghargaan kami terhadap kiprah dua sosok ulama tersebut dalam memajukan Banten, dan Indonesia pada umumnya," kata Udin Safarudin kepada Republika, Ahad (9/8) malam.

    Udin mengatakan, MA memandang penting mengusulkan dua sosok tersebut menjadi pahlawan. Hal itu karena perannya dalam memajukan Indonesia sangat besar, khususnya dalam bidang pendidikan.

    Karena itu,  lanjutnya, untuk menindaklanjuti usulan tersebut PB Mathla'ul Anwar akan menggelar sarasehan dengan melibatkan pemerintah daerah di Banten.

    "Pemerintah di Banten, seperti Pemprov Banten, Pemkab Pandeglang dan Pemkab Serang diharapkan dapat menindaklanjuti dengan membuat rekomendasi ke pemerintah pusat," katanya.

    Sadeli Karim Terpilih Ketua Umum Mathla'ul Anwar


    Sadeli Karim Terpilih Ketua Umum Mathla'ul Anwar

    Serang, (ANTARABanten) - KH Ahmad Sadeli Karim terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Mathla'ul Anwar periode 2010-2015 pada Muktamar MA ke XVIII di Serang, Senin. 
      
     Seperti diduga sejak awal, KH Sadeli Karim yang sebelumnya Ketua PB Mathla'ul Anwar (MA) bidang pendidikan mendapatkan dukungan kuat dari peserta muktamirin.

    Sadeli mengantongi suara sebanyak yaitu 173 suara, sementara saingannya KH Fadil Syamsuddin (Ketua Pengurus Wilayah MA Jawa Barat) mendapatkan 34 suara dan tujuh suara rusak.

    Sadeli Karim menggantikan Irsjad Djuwaeli yang memegang jabatan sebagai Ketua Umum PB MA selama empat periode sejak 1991.

    Pemungutan suara dalam pemilihan ketua umum MA pada muktamar tersebut dipimpin Ketua Sidang Indra Cahya.

    Sementara jumlah peserta muktamar yang memberikan suara sebanyak 214 suara dari pengurus MA seluruh Indonesia.

    Jumlah suara tersebut diantaranya 23 pengurus wilayah, 157 pengurus daerah, 36 dari pengurus MA, satu organisasi generasi muda MA, satu dari muslimat MA, satu suara dari pengurus demisioner, satu majelis fatwa dan satu dari majelis amanah.

    Dengan demikian secara resmi Sadeli Karim terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar MA sekaligus ketua formatur PB MA periode 2010-2015.

    Ia akan memimpin Ormas Islam tersebut dengan dibantu enam orang formatur yang terdiri dari Ketua Umum MA demisioner, majelis amanah demisioner, majelis fatwa demisioner, pengurus wilayah MA Sulawesi Tenggara mewakili Indonesia Timur, PW Jawa Barat mewakili Indonesia Tengah dan PW MA Lampung mewakili Indonesia Barat.

    Muktamar Mathlaul Anwar ke XVIII berlangsung sejak 16 dan berakhir hari ini (Senin, 19/7) diikuti 780  peserta dari seluruh Indonesia.

    Selain pemilihan ketua umum dilakukan juga pemilihan ketua majelis amanah yang secara aklamasi dipercayakan kepada Irsjad Djuwaeli, pada muktamar tersebut juga dikeluarkan fatwa menyangkut masalah nikah siri, terapi pengobatan dengan pendekatan spiritual, tentang para normal dan orang pintar serta terkkait mistisme, metafisika dan tayangan misteri.
    Editor: Ganet

    Peringatan 100 Tahun Mathla'ul Anwar Akan Dihadiri Presiden


    Presiden Joko Widodo (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf) Presiden Joko Widodo (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
    [SERANG] Pembukaan pelaksanaan Muktamar XIX sekaligus peringatan 100 tahun Mathla’ul Anwar yang diselenggarakan di Pandeglang, Provinsi Banten 7-9 Agustus 2015 akan dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi).
    Kepastian kehadiran Presiden Jokowi ini disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Mathla’ul Anwar KH Ahmad Sadeli Karim LC, didampingi Ketua Panitia Pelaksana Muktamar XIX dan Peringatan 100 Tahun Mathla’ul Anwar, Babay, selaku Ketua Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar Banten, dan pengurus PB Mathla’ul Anwar Ali Nurdin di Sekretariat Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Harian dan Elektronik Provinsi Banten, Kota Serang, Rabu (5/8).
    "Kami sudah berkoordinasi dengan pihak Sekretariat Kabinet (Setkab), terkait kepastian kedatangan Presiden Jokowi pada acara Peringatan 100 Tahun Mathla’ul Anwar di Pandeglang, Sabtu (8/8). Presiden datang ke Pandeglang menggunakan helikopter," jelas Ketua Umum PB Mathla’ul Anwar, Ahmad Sadeli Karim.
    Sadeli Karim yang juga anggota DPD menjelaskan, Muktamar XIX Mathla’ul Anwar dilaksanakan di Badan Pendidikan dan Pelatihan (Badiklat) Provinsi Banten, yang terletak di Karang Tanjung, Pandeglang dengan agenda antara lain pertanggungjawaban Pengurus Besar, pemilihan ketua umum PB Mathla’ul Anwar, serta perumusan rekomendasi.
    "Muktamar diikuti oleh 800 peserta yang terdiri atas 500 peserta utusan perwakilan Mathla’ul Anwar dari 30 provinsi dan 300 peserta dari utusan perwakilan dari kabupaten/kota, majelis fatwa, pengurus badan otonom, utusan universitas, utusan perguruan Mathla’ul Anwar seluruh Indonesia. Selain itu, akan hadir pula peserta dari beberapa negara seperti Singapore dan Malaysia," jelasnya.
    Khusus untuk peringatan 100 tahun Mathla’ul Anwar yang dihadiri Presiden Jokowi, akan dihadiri sekitar 150.000 siswa madrasah Mathla’ul Anwar, simpatisan dan undangan di Alun-alun Pandeglang.
    "Kami juga mengundang beberapa anggota DPR, beberapa menteri, dan juga anggota DPD. Mathla’ul Anwar akan merangkul semuanya kecuali yang beraliran radikal tidak akan diterima di Mathla’ul Anwar,” ujarnya.
    Lebih lanjut Sadeli Karim menjelaskan, sebagai ormas, Mathla’ul Anwar tidak bersifat eksklusif tetapi inklusif. Kader Mathla’ul Anwar tersebar di semua partai politik, namun tidak berafiliasi dengan partai politik tertentu.
    "Mathla’ul Anwar merupakan ormas Islam yang sangat demokrat. Kami mengambil posisi di tengah antara NU dan Muhammadiyah.
    Yang bergabung di Mathla’ul Anwar ada yang berasal dari NU dan ada juga dari Muhammadiyah. Kalau basis NU ada di Jawa Timur, basis Muhammadiyah ada di Yogyakarta, maka basis Mathla’ul Anwar ada di Banten. Selama ini yang dikenal masyarakat hanya ormas NU dan Muhammadiyah.
    Padahal Mathla’ul Anwar juga usianya sangat tua dan sudah banyak berbuat di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Karya Mathla’ul Anwar selama ini memang kurang bergema, ketimbang NU dan Muhammadiyah yang selalu muncul di kancah nasional.
    Karena itu, peringatan 100 tahun Mathla’ul Anwar dijadikan momen kebangkitan Mathla’ul Anwar," jelasnya. [149/L-8]

    Mathla’ul Anwar konsisten di jalur pendidikan

    Mathla’ul Anwar konsisten di jalur pendidikan
    Ormas Islam Mathla’ul Anwar yang kini sudah berusia satu abad dan memiliki perwakilan pada lebih dari 20 provinsi menegaskan tidak akan masuk ke wilayah politik, melainkan terus konsisten bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial.
    “Kami akan konsisten di jalur pendidikan, dakwah, dan sosial demi kemajuan umat,” kata Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi Pengurus Besar Mathla’ul Anwar (PBMA) Mohammad Zen kepada pers di Jakarta, Rabu.
    Menurut Zen, penegasan konsistensi sikap Ormas tersebut juga dikemukakan oleh Ketua Majlis Amanah Mathlaul Anwar yang juga staf khusus Presiden RI bidang Komunikasi Politik KH Irsjad Djuwaeli pada Musyawarah Wilayah (Muswil) V Mathla’ul Anwar, 11-12 Maret 2016 Pontianak, Kalimantan Barat.
    Pada kesempatan itu Irsjad menyatakan Mathlaul Anwar dalam usianya yang sudah mencapai satu abad (100 tahun) akan konsisten bergerak di bidang pendidikan, dakwah, dan sosial. Ia juga menyatakan bersyukur peringatan satu abad ormas itu pada Agustus 2015 di Pandeglang, Banten, dapat dihadiri Presiden Jokowi.
    “Tidak mudah merawat organisasi hingga memasuki usia seratus tahun. Banyak organisasi yang berguguran sebelum memasuki usia satu abad,” katanya sebagaimana dikutip Ketua Bidang Organisasi dan Kaderisasi PBMA Mohammad Zen.
    Zen juga menjelaskan, dalam Muswil Mathlaul Anwar di Pontianak, Pelaksana Tugas Ketua PWMA Kalimantan Barat Ir Jamaluddin menyampaikan bahwa Muswil tersebut diikuti oleh perwakilan Mathlaul Anwar dari sembilan kabupaten/kota se-Kalbar.
    Mathla’ul Anwar mulai berkembang di Kalbar sejak 1988 dan saat ini mengelola beberapa lembaga pendidikan di Kota Pontianak, Mempawah, Ambawang, dan sekitarnya. Salah satunya adalah Pondok Pesantren Mathlaul Anwar Kota Pontianak yang mengelola satuan pendidikan TK, MTs dan Aliyah.
    Saat ini jumlah santrinya mencapai lebih dari 300 orang dan semuanya bermukim di pesantren. Pesantren tersebut juga dikenal memiliki banyak prestasi, baik prestasi akademik maupun nonakademik, di antaranya juara festival shalawat, qiraatul kutub, lomba pidato dan lomba sains antar madrasah se-Provinsi Kalbar.
    Selain itu, Pengurus Wilayah setempat juga sedang membangun komplek pendidikan Pondok Pesantren Tahfidzul Quran di Desa Durian, Ambawang, Kabupaten Kubu Raya pada lahan seluas satu hektar. Saat ini proses pembangunan sedang berlangsung dengan dukungan dana donatur dari Arab Saudi.
    Zen menambahkan, pada Muswil Mathla’ul Anwar di Pontianak, Kepala Biro Kessos Kalbar Mahmuda yang menyampaikan sambutan mengemukakan, Pemerintah Kalbar mengucapkan terima kasih atas peran serta Mathlaul Anwar dalam turut membangun masyarakat Kalbar.
    Selanjutnya Pemerintah Provinsi Kalbar menyampaikan agar ormas tersebut mampu memilih kader yang berdedikasi tinggi dan amanah, dapat merumuskan program kerja yang berwawasan agama, bisa bekerjasama dengan ormas lainnya dalam semangat persatuan, dan mampu membangun SDM yang religius.

    Sumber : Antara

    K.H. Mas Abdurrahman (Mathla’ul Anwar Founder)


    KH Mas Abdurrahman
    By: Didin Nurul Rosyidin, Ph.D.
    K.H. Mas Abdurrahman was born in 1875 in the village of Janaka, Menes. His father, K.H. Mas Jamal, was the leader of a small pesantren in Janaka and was a descendant of the two legendary figures, Ki Jong and Jon, among the first converts to Islam in Banten. From his father’s lineage, K.H. Mas Abdurrahman held a right to add the title of Mas to his name as a sign of his noble status. His grand father, who was an official at the Banten sultanate, fled the capital of the Banten sultanate when the Dutch force annexed the sultanate in the early of the nineteenth century. He, then, lived in a remote village, called Jenaka, of the Haseupan mountain areas, where K.H. Mas Abdurrahman was later born[1].
    K.H. Mas Abdurrahman’s early religious education was under the direction of his father. Then, he like other “wandering” santri (pupils) sought higher learning to a number of teachers with different expertises on religious subjecs. First, he studied the basic Arabic grammar to K.H. Shohib of Kadupinang, Menes. He then travelled to pesantrens located outside Menes region as he studied the science of the Qur’an in the pesantren of K.H. Ma’mun in Serang. He then took a long journey to the pesantren of kiyai Afif in Sarang, Central Java, where he learned the higher Qur’anic studies. K.H. Tubagus Bahri of Purwakarta, West Java, gave him special trainings on Sufism and tarekat practices. In 1903, his father died in Mecca while performing the Hajj. Two years after the death of his father, K.H. Mas Abdurrahman went to Mecca where he sought his father’s grave as well as studied Islamic teachings to several religious teachers there, including Syekh Ahmad Khatib of Minangkabau and Syekh Mahfudz of TerMas. In Mecca, he made acquaintance with some of the future prominent religious leaders from Indonesia, such as K.H. Hasyim Asy’ari, one of the founding fathers of the NU. In 1915, due to a strong request from K.H. Tubagus Muhammad Soleh who sought a young figure to run the madrasah system of schooling, K.H. Mas Abdurrahman returned to Menes and soon became the director of education affairs in Mathla’ul Anwar[2].
    As the director of education affairs, K.H. Mas Adurrahman had powerful position not only in matters related to the improvement efforts of the madrasah but also religious discourses as well as internal political decision, particularly following the death of two most senior leaders of Mathla’ul Anwar, K.H. Tubagus Muhammad Soleh dead in 1927 after being jailed by the Dutch government and K.H. Entol Muhammad Yasin suddenly died in 1937. For instance, he had unlimited authorities in all processes of teachers’ recruitment. He was also the only arranger of the curriculum applied in the madrasah in which he introduced a number of secular subjects such as arithmetic, Latin alphabet, geography and Islamic as well as world history in the early of 1930s[3]. While, in religious discourses, he held a weekly general study held in every Thursday and Friday and obliged to all teachers and senior students to take part[4]. His position in directing religious viewpoints in Mathla’ul Anwar could be compared to that of A. Hassan in Persis where he was regarded as the supreme professor in religious notions. The death of K.H. Entol Muhammad Yasin left K.H. Mas Abdurrahman as the only powerful figure in Mathla’ul Anwar. His absolute political influence was clearly demonstrated in the 1939 congress in which he appointed his loyal pupil, K.H. Uwes Abu Bakar, who was just only 27 years old, as the general chairman expelling K.H. Entol Junaedi, a son of K.H. Entol Muhammad Yasin, a graduate of the Al-Azhar University Cairo and more popular among members of Mathla’ul Anwar[5].
    K.H. Mas Abdurrahman was also active in political movements at the national level. He along with K.H. Entol Muhammad Yasin founded the SI’s branch in Menes in 1915 in which the former acted as the chairman of the religious advisory board and the latter was the chairman of the executive board[6]. Under their leadership, the SI of Menes played prominent roles in the progress of the SI in Banten, which was predominantly in the hand of local aristocrat families that were scarcely influential among peasants. K.H. Mas was frequently requested by the board of the SI of Banten to give speeches stirring villagers to join the association. For instance, in the public meeting held on February 8, 1920, by the SI, he spoke about the importance of supporting the association from religious perspectives and closed his speech by declaring that becoming a member of the SI was one of the important examples of showing obedience to God[7].
    After withdrawing from the SI in 1928, he joined the NU at the same year. Actually, his active participation in this kaum tua association had been started earlier as he himself attended the meeting of the foundation of the NU in 1926. He along with K.H. Entol Muhammad Yasin founded a new branch of the NU in Menes in which like in the SI the latter was the general chairman of the executive board and the former was the general chairman of the Syuriah[8]. In the NU’s circle, K.H. Mas Abdurrahman held high reputation as he was included into one of the twenty-six most respected leaders in the history of the NU as could be seen in the book published by the Saifudin Zuhri Foundation in 1994 along with other high-ranking leaders such as K.H. Hasyim Asy’ari and K.H. Wahab Hasbullah[9].
    Biblioghraphy
    [1] M. Nahid Abdurrahman, K.H. Abdurrahman: Pendiri Mathla’ul Anwar tahun 1916, Rangkasbitung: Penerbit Tawekal, n.d., p. 2.
    [2] Ibid., pp. 3 – 6.
    [3] Interview with H. Rafi’udin of Bojong, 20 July 2002.
    [4] Aceng Abdul Qodir, Biograpi KH. Mas Abdurrahman Mengenai Didaktik Methodiknya Dalam Pendidikan Agama Islam, Unpublished Undergraduate Thesis, Cikaliung: Sekolah Tinggi Agama Islam Mathla’ul Anwar (STAIMA), 1999, p. 59.
    [5] Tim Perumus, Mathla’ul Anwar …, pp. 45 – 46.
    [6] Mimbar, 20 October 1919.
    [7] Mimbar, 20 October 1920.
    [8] Anonymous, Menapak Jejak Mengenal Watak …, p. 74.
    [9] Anonymous, Menapak Jejak Mengenal Watak: Sekilar Biografi 26 Tokoh Nahdlatul Ulama, Jakarta: Yayasan Saifudin Zuhri, 1994, pp. 73 – 87.

    Followers